Alas Kaki Penentu Hak Mencari Keadilan

"Sebelum berjuang mencari keadilan, periksa dulu alas kakimu. Jika hanya sendal jepit, jangan coba-coba meminta hak mu!"

'Keadilan' di negara ini memang merupakan suatu hal yang tidak pernah adil seutuhnya. Undang-undang kehilangan integeritasnya jika diperhadapkan dengan "alas kaki". Lucunya negara ini, entah sudah berapa kali "sandal jepit" digunakan sebagai parameter menentukan masalah keadilan.

Sandal Jepit [src: 3]

Akhir tahun kemarin media ramai memberitakan nasib seorang remaja usia 15 tahun yang dipenjarakan karena sandal jepit. AAL tak pernah menyangka jika sepasang sandal jepit butut warna putih kusam yang ditemukannya di pinggir Jalan Zebra, Kota Palu, akan menyeretnya ke meja hijau. Jaksa mendakwa AAL dengan Pasal 362 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Lucu! hukuman kepada pencuri sandal jauh lebih berat dibandingkan koruptor, yang dalam sejumlah kasus di  Indonesia divonis antara dua hingga tiga tahun.

Dunia pun mendengar, wajah kusam penegakan hukum di negara ini kian familiar di mata bangsa lain. Salah satu situs media Internasional , The News Zealand Herald pernah memuat berita yang berjudul "Indonesia's new symbol for injustice: Sandals". Berita yang menyoroti problema ketidakadilan hukum di Indonesia juga diberitakan oleh situs Washington Post, Boston Globe, Hindustan Time, dan CTV Winnipeg.
(src: Skandal Sandal Jepit Bocah AAL Mendunia)

Aksi 1000 Sandal untuk Keadilan. [src: 2]


Beruntung, mungkin karena banyaknya desakan dari publik dan media, AAL pun selamat dari ancaman 5 tahun penjara. Hakim memutuskan AAL dikembalikan ke orang tua dan membayar denda Rp2 ribu.

***

Masalah keadilan "sandal jepit" yang menjerat AAL mungkin sudah dilupakan bangsa ini. Namun faktanya keadilan "sandal jepit" kembali menjadi perbincangan hangat media-media nasional. Belum lama ini ramai diberitakan nasib satu keluarga yang ingin memperjuangkan keadilan ditolak masuk gedung Mahkamah Agung karena "sandal jepit".

Kasdi, 52 tahun, tinggal di Demak, Jawa Tengah. Mata pencahariannya cuma menangkap ikan sepat atau betik di rawa. Dia datang jauh dari Demak ke Jakarta hanya ingin memastikan pengajuan Memori Kasasi kasus yang menimpah anak pertamanya telah diproses oleh MA. Namun, tak banyak yang bisa beliau perbuat ketika pintu 'simbol keadilan hukum' tak mengijinkan setapak langkah kakinya masuk gedung MA.
"Waktu ditolak di pintu MA, saya sangat drop. Saya bingung harus ke mana lagi... Saya sangat kecewa... Masa karena masalah pakaian dan sandal jepit saja saya tidak bisa menuntut keadilan? Saya tidak punya baju bagus. Baju saya sehari-hari ya ini. Sandal saya sehari-hari ya ini. Setiap hari saya bepakaian seperti ini. Saya orang kampung, saya tidak punya baju bagus..." - Kasdi
Singkat cerita, Kasdi sedang berusaha memperjuangkan nasib anak pertamanya yang bernama Sarmidi (24 tahun) yang saat ini dibui di LP Kedung Pane, Semarang. Kasdi yakin anaknya itu sebetulnya cuma korban rekayasa seorang petugas polisi. Dia dijebak lalu dituduh jadi pengedar narkoba.

Di Semarang, dia telah memperjuangkan agar anak nya bisa bebas dari jeratan hukum namun usaha yang dilakukannya kandas. Dia pun nekat mendatangi gedung Mahkamah Agung di Jakarta. Malangnya, di lembaga hukum tertinggi ini, dia diusir petugas satuan keamanan. Alasannya, karena dia datang cuma pakai sandal jepit.

Untuk lebih lengkap terkait kasus diatas, silakan baca berita yang dimuat news.viva.co.id :
Kasdi: Saya Orang Kampung, Tak Punya Baju Bagus

Kasdi dan keluarga [src: 1]

***

Menyimak berita lain yang juga dipublikasikan situs Vivanews, ada hal lucu yang bisa kita bahas dari pernyataan Kepala Polretabes Semarang, Komisaris Besar Elan Subilan yang menanggapi ramainya pemberitaan Kasdi berjuang ke Jakarta mencari keadilan :
"Polisi, jaksa dan hakim tak pernah salah menghukum orang,"
- Elan Subilan
hmmm, apa benar tidak pernah salah? 
apakah polisi seorang malaikat? 
apakah jaksa seorang dewa?
sesempurna apakah hakim itu? apakah lebih sempurna dari Tuhan?

Yah, menurut saya hal yang lucu dan sangat men-dewa-kan diri. Mungkin mereka telah mencapai level kehidupan yang sangat sempurna. Padahal nyatanya kita semua setuju, tidak ada manusia yang sempurna dan manusia itu tidak lepas dari kesalahan. Bukan berarti manusia bebas melakukan kesalahan. Ada kesalahan yang tidak disengaja dan itu terjadi namun ada juga kesalahan yang memang disengaja bahkan dengan sengaja membuat kesalahan buatan pada untuk orang lain, (mungkin) seperti kasus yang menimpa anak sulung Kasdi.

Saya tidak pesimis dengan pernyataan di atas, tapi bukan kah realita penyelesaian kasus hukum negara ini yang menyadarkan kita bahwa Polisi, jaksa dan hakim pernah salah menghukum orang. Masih hangat pemberitaan sidang Majelis Kehormatan Hakim yang memberhentikan dengan tidak hormat Hakim agung Achmad Yamanie karena memalsukan putusan hukuman terhadap terpidana narkotika Hengky Gunawan dari hukuman mati menjadi 15 tahun penjara. (src: Hakim agung Achmad Yamanie dipecat)

***

Kasdi dan keluarga terus berjuang mencari keadilan [src: 1]
Kembali lagi kita bahas terkait "Alas Kaki Penentu Hak Mencari Keadilan" di negara ini. Hal yang belum berakhir dan sudah seharusnya kita bersatu memperjuangkan keadilan untuk bangsa sendiri.

Sebuah ironi nyata yang menggerogoti keutuhan bangsa ini. Coba kita lihat lagi isi Undang-undang Dasar yang merupakan sebuah pondasi berdirinya bangsa ini. Bab X yang mengatur warga negara dan penduduk, pasal 27 ayat yang pertama berbunyi :

Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Apakah pasal di atas hanya sebuah pelengkap dan pemanis dalam UUD?
Apakah ada ayat tambahan tersembunyi dengan bunyi :

Bab X UUD 1945 Pasal 2 ayat 1 hanya berlaku bagi warga negara yang tidak menggunakan sendal jepit.???
Lucu!
Pancasila 'Dasar Negara'? benarkah?
bukan kah sila ke-5 dengan tegas menyatakan "Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia". Apakah ada juga pengecualian 'seluruh rakyat Indonesia' hanya mereka yang tidak menggunakan sandal jepit?

Lalu mengapa Hengky Gunawan, terpidana kasus narkoba yang seharusnya dihukum mati hanya menerima hukuman 15 tahun penjara? apa karena saat masa peradilan yang bersangkutan menggunakan sepatu emas? alas kaki yang tidak bisa dimiliki semua orang sehingga dengan mudahnya hukum berubah. hmmmm

Saya rasa kita harus setuju, "Indonesia's new symbol for injustice: Sandals". Sandal adalah simbol keadilaan di negara ini. Sebuah gambaran, sandal itu berpasangan, jika satu kaki menggunakan sandal sementara kaki satunya tidak, maka saat berjalan akan terasa tidak seimbang. Sama halnya dengan proses hukum di negara ini, memang ada sebagian penegak hukum yang hanya 'menggunakan 1 sandal' dalam melakukan proses hukum sehingga hasil nya tidak menyentuh 'keadilan'. Tapi kita tetap bangga, karena masih banyak juga penegak hukam yang dengan seimbang 'menggunakan dua sandal' untuk melakukan proses hukum.

Sayangnya "sandal jepit" itu bisa saja putus, tapi saya berharap semangat kita tidak pernah putus dalam memperjuangkan keadilan untuk bangsa sendiri!

***

referensi  :
  1. http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/106218
  2. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/374710-kisah-malang-kasdi-cari-keadilan--ini-kata-polisi-semarang
  3. http://www.djpp.depkumham.go.id/database-peraturan/uud-ri-tahun-1945.html
sumber gambar :
  1. news.viva.co.id
  2. www.infokita.web.id 
  3. www.smartnewz.info

About the Author

Jeanot Nahasan

Author & Editor

Web Developer dan Internet Marketer berdomisili di Yogyakarta. Menulis untuk mengenal dunia.

2 comments:

  1. bener banget gan Indonesia bener bener negara yang gak adil

    BalasHapus
  2. hmmmm mudah2an indonesia orang2nya pada insyaf ya

    BalasHapus

 

Jeanot Nahasan © 2015 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com