Tulisan untuk sahabatku di dunia yang penuh damai.

Terima kasih Tuhan untuk hari yang indah ini, syukur aku masih bisa menulis sebuah artikel untuk blogku  yang sederhana ini | jeanotnahasan.blogspot.com

"Disaat kamu datang tuk menghirup udara di dunia ini dengan tangisan, orang di sekitarmu menyambutmu dengan penuh kebahagiaan, namun di saat kamu telah kembali dengan senyum kabahagiaan, sadarkah kamu, bahwa kamu tlah membuat orang-orang disekitarmu merasakan duka yang begitu dalam. "

Tak ada yang bisa dipersalahkan. Semua sudah menjadi jalan hidup dari seorang pemuda yang dengan penuh semangat mencapai tujuan hidupnya, seorang sahabat yang kukenal dengan nama Alan Olivian. Pemuda yang gigih, pemuda yang memiliki banyak talenta dan sejuta impian hidup. Mengenang satu tahun kepergianmu aku sadar, ternyata saat kau masih ada di dunia ini, tak banyak yang sanggup aku berikan.

Sejenak kulepas segalah aktivitasku, meninggalkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku. Di luar kamar derai deras hujan ikut bersedih, mungkin merasakan hal yg sama kurasakan saat ini. Meskipun di sini aku mencoba tegar tuk menahan kesedihan, namun isi hati tak bisa ikut berbohong. Sampai detik ini memang aku masih setengah menerima, aku belum percaya. Kau masih punya cita-cita, kau masih punya harapan, mimpi-mimpimu, dan sgala impianmu. Tapi mengapa, mengapa begitu cepat, di usia muda kau sudah pergi dan tak kembali. Masa-masa yang seharusnya kau lalui untuk mempersiapkan masa depanmu, mengiringi jalan hidupmu tuk mencapai impian dan tujuan hidupmu sendiri.

Memang sudah satu tahun berlalu, namun sampai kapanpun, kilas balik akan masa lalu seringkali melintas di pikiranku. Suatu cerita, kisah, dimana alur perjalanan hidup aku kamu dan sahabat2 lainnya mengingatkan akan suka duka kenyataan hidup,, semua pahit dan manisnya hidup yang pernah kita jalani bersama telah tersimpan abadi pada suatu memori di alam pemikiran. Begitu banyak yang berkesan sobat, rasanya ingin berkumpul dan bercerita akan pengalaman hidup kita masing2 setelah berpisah tuk melanjutkan studi di perguruan tinggi idaman masing2. Namun inilah kenyataan hidup, 'dunia kita tlah berbeda' batu nisan memisahkan jalan kita, kau tlah berada di dunia yang abadi, dunia yang penuh kedamaian, dunia yang tak mengenal adanya penindasan, dunia yang tidak mengenal adanya perang antar suku, budaya dan agama, dunia yang tak ada satupun berani berbuat korupsi, dunia yang tak memperlakukan perbudakan, kekejaman, dan pemerintahan tak adil dan itu semua telah kamu rasakan. Berbeda dengan dunia tempat kami berpijak saat ini, udara segar yang kami hirup smakin hari smakin berkurang, sbagian manusia tak lagi mengenal Tuhannya, bertindak semaunya, menindas, berlaku tak adil dan begitu kejam kepada sesamanya. Bahkan alamnya sendiripun diperlakukan sesuka hati demi kekayaan yang aku bilang hanya 'kekayaan bohongan', hampa dan tak bernilai di mata Tuhan.

Sobat kini aku sadar, ternyata kau adalah orang yang beruntung, apakah kamu mengetahui, jikalau bumi tempat kami ini berpijak sedang menderita. Alam seringkali marah melihat tingkah kami. Begitu banyak bencana yang sudah menegur, tapi apa, apa yang terjadi, hanya sebagian kecil orang yang sadar dan benar2 peduli akan rintihan alam tersebut. Aku mengatakan kamu beruntung karena kamu tak merasakan bencana seperti yang sering kami alami, banjir, gempa hingga angin puting beliung tak ada di duniamu. Duniamu begitu damai sobat, dunia kami saat ini hanya persinggahan. hanya sbuah wadah yang "kecil", tempat kami untuk mengembangkan segalah talenta-talenta yang telah diberikan sang Pencipta sebagai modal hidup. Doaku untukmu sahabat, tetaplah tersenyum bersamaNya di Kerajaan Sorga.

Sobat, hanya ini yang sanggup aku ceritakan mengenai dunia kami yang sangat menyedihkan ini. Aku sadar, sekumpulan tulisan yang aku berikan ini, belum sanggup membuatmu bahagia, dan menghapus kesalahan yang pernah aku perbuat padamu. aku hanya berharap, di sana kamu ikut mendoakan dunia kami ini, semoga bisa damai khusunya bumi petiwi yang disebut Nusantara, yang bangga akan Pancasilanya, namun akhir-akhir ini seakan-akan t'lah kehilangan jati dirinya sendiri. 
"Tersenyumlah Sobatku, Alan Olivian" (RIP 18.10.09)

About the Author

Jeanot Nahasan

Author & Editor

Web Developer dan Internet Marketer berdomisili di Yogyakarta. Menulis untuk mengenal dunia.

4 comments:

  1. sedih rasanya..

    BalasHapus
  2. Aku sangat terharuh Bro membaca isi hatimu..aq turut merasakan gimana rasanya di tinggalkan orang2 yg kita sayangi, namun yakinlah bahwa Dia tersenyum dan merindukan kita juga. Terus Berjuang Dek..sukses slalu, GBU

    BalasHapus
  3. bro, tulasan mu benar2 membwt terharu. semangat yah.

    BalasHapus
  4. selamat jalan brother...kamu akan selalu ada di hati kami...RIP

    BalasHapus

 

Jeanot Nahasan © 2015 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com