Pak Suyatno, 19 Tahun Jualan Putu Keliling di Yogyakarta

Ceria nya matahari siang ini membuat saya malas untuk keluar rumah. Senyumnya cukup sadis, bisa membakar kulit. Tapi, mau kemana juga? kerjaan saya hanya serabutan, tapi biar keren sebut saja saya seorang "freelancer" yang kerja, tidur, makan dan pacarannya di kamar.

Sedikit beristirahat dari kerjaan yang lumayan itu, saya merebahkan badan di kasur untuk menikmati tayangan film action romantic paling fenomenal di dunia, "Shaun The Sheep". Cerita kejam dan romantisnya sungguh menyatu.

Jadi cerita awalnya Sahun punya pacar baru. Pacar Sahun itu ibarat bunga di tepi jalan, terpisah dari yang lainnya dan Shaun lah yang pertama kali peduli padanya. Shaun yang lagi asik-asiknya pacaran sering diganggu kambing-kambing brengsek lainnya dan saat hubungan percintaan Sahun dan pacar barunya semakin dalam, mereka harus terpisah karena pacar Shaun harus diambil lagi oleh majikannya.

Coba bayangkan gimana rasanya jika kamu jadi Shaun? Sakitnya dimana? 

***

Menjelang tayangan Shaun The Sheep habis, tiba-tiba terdengar suara khas jajanan jaman saya masih bocah ingusan. Merasa sangat mengenal suara khas ini, dengan sedikit tergesah-gesah saya langsung bergegas keluar rumah mengejarnya.

dan...
ku dapat kau!

"Putu Pak?! beli sepuluh yah" kataku tanpa menanyakan harganya terlebih dahulu.

Si bapak penjual putu langsung menepikan sepeda yang dia gunakan menjajakan putu jualannya. Saat beliau menyiapkan putu pesanan, saya masuk ke rumah untuk mengambil smartphone LG L7 saya untuk mengambil beberapa gambar.

Jajanan tradisional putu pak Suyatno, . 

Sambil potrat-potret mengambil foto yang rencananya ingin saya upload instagram biar eksis, saya coba membuka obrolan dengan si bapak penjual putu. Ya, iseng-iseng berhadiah, siapa tahu dapat diskonan atau bonus :))

Dari obrolan singkat, saya mengenal nama beliau. Sebut saja Suyatno, memang nama sebenarnya. Bapak Suyatno ini sudah jualan putu sejak 1995. Jika dihitung, bapak ini sudah hampir 20 tahun jualan putu dan melewati dinamika 5 presiden memimpin negara ini, tapi tak ada satu pun dari kelima presiden itu yang pernah membeli putu beliau.

Sebagai salah satu penjual putu keliling di Jogja, bapak ini menempuh jarak yang ternyata cukup jauh untuk mengais rejeki, dari Maguwo beliau ke selatan hingga Kledokan (Jln Solo) kemudian kembali ke Utara hingga Condong Catur. Dengan jarak seperti itu, dalam sehari beliau bisa mendapatkan Rp 200.000 dari putu yang dijualnya.

Ohy, ternyata bapak Suyatno ini pada awal karirnya memulai profesi sebagai penjual putu keliling dari kota Semarang, lalu pindah ke Boyolali dan terakhir di Yogyakarta dari tahun 1996 sampai sekarang.

***

Jika mengingat masa kecil, hampir setiap hari saya ngemil jajanan ini. Kadang dinikmati sendiri, kadang juga belinya urunan sama teman-teman ingusan lainnya. Jaman saya harganya Rp. 100 / biji. Hari ini sudah Rp. 700 / biji versi bapak Suyatno.

Ohy, ada hal lain yang membuat jajanan putu menarik. Jaman itu kita (atau mungkin hanya saya) melihat ada yang unik dari gerobak putu, yaitu bunyinya yang mirip suara kereta api tuuttt... tuuttt.. tuuutttttt... :)
Sepeda jualan putu pak Suyatno


***

Semoga rejeki dari usaha pak Suyatno semakin lancar. Asal bapak tahu, belakangan ini banyak yang mencari jajanan semacam yang dijual pak Suyatno loh, khususnya korban-korban hits from the 80s & 90s yang gagal move on. :D

Buat para korban hits from the 80s & 90s lainnya, SUDAH MAKAN PUTU HARI INI? :))

About the Author

Jeanot Nahasan

Author & Editor

Web Developer dan Internet Marketer berdomisili di Yogyakarta. Menulis untuk mengenal dunia.

3 comments:

  1. ditempat saya juga ada om,,malah jalan kaki di pikul putunya,,udah tua juga bapak yg jual..tapi tetep laziz di santap.. :D

    BalasHapus
  2. Itu kue kesukaan saya ... memang tak lekang ditelan jaman,lezatoz ... bungkus pak.

    BalasHapus
  3. enak nih, masih suka beli, sering lewat depan rumah

    BalasHapus

 

Jeanot Nahasan © 2015 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com