Cerita di Balik Film Negeri 5 Menara

Cerita hari ini sedikit mengulas tentang kisah di balik layar film Negeri 5 Menara, bukan review film ataupun sinopis nya. Yang akan di-share adalah cerita debut akting Lulu Tobing setelah vakum selama 6 tahun dan juga cerita tentang kebanggan yang dirasakan sang sutradara, Affandi Abdul Rachman bisa syuting di Gontor. Sama halnya dengan novel best seller berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan, Film Negeri 5 Menara juga merupakan film yang diadaptasi dari novel best seller dengan judul yang sama, yaitu Negeri 5 Menara. Kedua novel tersebut juga berangkat dari kisah nyata yang ditulis dalam sebuah buku.

Foto Lulu Toding - diambil dari 21cineplex
Pertama kita awali dengan cerita debut Lulu Tobing yang masih bisa membuktikan kualitas seni perannya lewat film yang ini. Namun, dia pun tidak memungkiri bahwa dirinya memiliki banyak kesulitan saat proses syuting akibat sudah lama tidak beraktifitas di dunia akting. Film garapan Affandi Abdul Rachman ini memang tidak dapat dikatakan sebagai pertanda kembalinya Lulu Tobing di dunia akting. Dirinya mengaku masih belum mau eksis lagi di dunia hiburan dalam waktu dekat.

Berikut beberapa kutipan perkataan Lulu Tobing :

"Emang agak susah sih untuk inget emosi-emosi akting seperti dulu. Tapi itu saya anggap sebagai tantangan karena sudah lama nggak akting dan tiba-tiba di suruh akting dengan dialek Minang,"

"Awalnya saya menolak tawaran ini karena nggak pede aja sudah lama nggak akting malah disuruh main film. Tapi setelah baca novelnya, saya langsung merasa sayang aja kalau dilewatin,"

"Terus terang kalau bukan dari hasil paksaan cast director film Negeri 5 Menara, saya pasti belum kembali berakting. Kerinduan untuk kembali sih ada, tapi masih belum kepikiran aja. Saat ini masih banyak kerjaan pribadi yang harus saya jalani, suatu saat saya akan balik lagi kok tapi bukan sekarang-sekarang ini,"

Cover Film Negeri 5 Menara
Setelah cerita tentang debut Lulu Tobing, sekarang kita lanjut tentang cerita kebanggaan yang dirasakan sang sutradara, yaitu Affandi Abdul Rachman . Pria jebolan Columbia College of Hollywood tersebut mengaku sangat bangga karena menjadi salah satu sutradara yang mampu melakukan syuting film dengan menggunakan pesantren Gontor sebagai lokasinya.
Dia juga mengaku kalau selama proses pembuatan film adaptasi dari novel karya A.Fuadi, dirinya memiliki beberapa kesulitan. Namun dengan semangat yang menginspirasi dari tag line film Negeri 5 Menara yaitu 'Man Jadda Wajada' (siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil), dia pun berhasil menemukan solusi dari setiap kendala yang dihadapi. Salah satu kutipan perkataan dari beliau :
"Kita sempat survey beberapa pesantren di Jawa Timur, namun pada akhirnya kita merasa cocok di Gontor. Saya merasa bangga aja karena bisa melakukan syuting film di salah satu pesantren ternama di Jawa Timur tersebut,"
Foto Afandi Sutradara Film Negeri 5 Menara

Sekian. Semoga artikel berjudul Cerita di Balik Film Negeri 5 Menara ini bermanfaat untuk menambah wawasan anda yang membacanya. Jangan lupa klik LIKE yah :)

About the Author

Jeanot Nahasan

Author & Editor

Web Developer dan Internet Marketer berdomisili di Yogyakarta. Menulis untuk mengenal dunia.

7 comments:

  1. ah pengen nonton filmnya :(

    BalasHapus
  2. republik twitter aja blm nonton mas :D
    keren film hollywood hehe

    BalasHapus
  3. Wah Bagus nih kayaknya,
    Mau tukeran link bisa gak mas?
    Cek di http://www.fahruddin.com/2012/01/partner.html Link mas sudah tak pasang.

    BalasHapus
  4. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    BalasHapus
  5. wah pengen bgt nonton film ini ky ap...

    BalasHapus
  6. aku kecewa banget nonton film negeri 5 menara.. Bagi yg belum baca novelnya n filmnya,aku saranin nonton dulu baru baca,kalo sebaliknya malah kecewa

    BalasHapus
  7. @Anonim : terima kasih atas sarannya :)

    BalasHapus

 

Jeanot Nahasan © 2015 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com