Menyerah Pada Sebuah Tulisan, Hari Esok Akan Menjadi Kemarin

Malam ini aku menyerah pada sebuah tulisan. Seperti banyak dari mereka yang berlalu hanya untuk menambah tumpuhkan list draft di beranda blog. Tentu bukan karena kehabisan kata-kata, aku hanya tak ingin tulisan yang istimewah ini 'terkotori' oleh pikiran ku yang bercabang. serasa aku sedang ada di banyak tempat, serasa sedang mengerjakan banyak hal, serasa aku berada pada banyaknya dimensi waktu yang berbeda.

hasratku ingin menyelesaikan tulisan itu dengan satu fokus. lebih cepat.
aku tak akan membiarkan kejadian 'karya Tuhan' hilang dari ingatanku.
Ya, aku menolak lupa!

Aku menyadari, aku bukanlah seseorang dengan daya ingat yang kuat. Seperti saat berkenalan dengan seseorang, namanya hanya terdengar saat bersalaman. Setelah itu memori ku tak lagi bisa menggambarkannya pada bayangan indra pendengaran. Sekejap, hilang.

Begitu banyak hal menarik, kejadian penuh makna yang kehilangan rincian proses dari ingatanku. Tapi untuk kejadian itu, aku tidak ingin sebuah 'timing' Tuhan yang luar biasa hilang begitu saja dari sejarah hidupku.

Aku ingin menjadikan tulisan itu sebagai bukti pada mereka yang kerap kali mendustakan keajaiban Sang Pencipta. Tapi aku menyerah, belum saat nya untuk aku selesaikan. Masih banyak fokus lain yang harus aku jamah. Seperti ketika aku menyadari kejadian itu bahwa Tuhan mengatur hal indah tepat pada waktunya.



***
Fokus yang bercabang terjadi karena pilihan. Aku memaksa memilih banyak tanggung jawab pada waktu yang bersamaan. Tapi ini bukan saatnya untuk menyalahkan pilihan. Harusnya aku menyadari bahwa Tuhan memberi porsi yang banyak karena sebuah alasan. Tuhan saja tahu aku bisa, lantas kenapa harus menyerah? dan harusnya tidak ada keluhan kan? bukan begitu?

***
Belakangan ini, beberapa teman ku tidurnya kurang nyenyak.
mereka diteror oleh ketidakpastian!
mereka ditodong oleh ketidakjelasan!
mereka dihadang ribuan tanda tanya!

dimataku, mereka adalah pejuang. Bertaruh dengan segalah kemampuan, keringat, menerobos dingin malam dan rintik hujan, menjelajah lokasi yang jauh, terik matahari menjadi kawan, lelah batin dan pikiran untuk sebuah tantangan 'mission impossible'.

***

kepada para 'pejuang' disekitarku, ini bukan saatnya untuk mundur. Medan perang ini adalah ujian karakter kita. Kita dapat menjadikan momentum ini sebagai batu loncatan, sebuah modal untuk menjadi lebih baik di masah depan.

Ini adalah sebuah dinamika! tetap berjuang! mencoba semaksimal yang kita bisa.
Ini adalah sebuah dinamika! tetap berjuang! dengan segalah kelebihan yang Tuhan karuniakan.
Ini adalah sebuah dinamika! tetap berjuang! Kita akan melewatinya! Kita pasti bisa!

Karena hari esok akan menjadi kemarin :)

Jaga kesehatan, sepertinya negara ini membutuhkan kalian di masa depan!

About the Author

Jeanot Nahasan

Author & Editor

Web Developer dan Internet Marketer berdomisili di Yogyakarta. Menulis untuk mengenal dunia.

5 comments:

  1. super sekali mas..
    I agree, bahwa tuhan saja yakin kita bisa, kenpa harus mengeluh? hehe

    super

    BalasHapus
  2. Kok aku suka sama kalimat ini ya not :

    "Seperti ketika aku menyadari kejadian itu bahwa Tuhan mengatur hal indah tepat pada waktunya"

    Sesuatu yang indah, akan tercipta disaat kita tidak menyadari bahwa hal tersebut akan terjadi :)

    BalasHapus
  3. jalani semua dengan ikhlas mas, memang semuanya akan indah pada waktunya :)


    salam kenal :)

    BalasHapus
  4. weleeh. tulisannya bagus banget mas :)
    majas majasnya juga kena smua :o

    BalasHapus
  5. Segala sesuatu indah akan pada waktunya, yes bingit. Kalimat itu ada di Alkitab lho, dulu saya gunakan untuk bacaan saat ibadat pernikahan, saat masih berjuang dan semua terlihat abu2 memang berat, tapi kalau sudah timingnya, waktunya bisa tepat banget, melampaui apa yang kita bayangkan. Tuhan tau yang kamu mau dech, Ganbate.

    BalasHapus

 

Jeanot Nahasan © 2015 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com